TAQWA SEBAGAI KUNCI KEBAHAGIAAN DUNIA AKHIRAT
Oleh:
Ust. Hurnawijaya Al-Khairy, QH., S.HI., M.Sy.
(Khadim Ponpes Daruttaqwa Al-Khairiyah NW Teko/ Dosen UIN Mataram)
اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر
اللهُ أَكْبَر كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهْ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين، غَافِرِ الذُّنُوْبِ وَمُكَفِّرِ السَّيِّئَاتِ عَنِ الْقَائِمِيْنَ وَالصَّائِمِين، وَرَافِعِ دَرَجَاتِهِمْ فِي عِلِّيِّين، وَمُدْخِلِهِمْ فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْن.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، لَهُ الْحَمْدُ وَالنِّعْمَةُ وَالْفَضْلُ، مُخْلِصًا لَهُ الدِّين، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، الشَّفِيْعُ لِتَالِي كِتَابِ اللَّهِ الْمُبِين.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى رَسُوْلِ اللَّهِ سَيِّدِ الْمُتَّقِين، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَالْهَادِي إِلَى جَنَّاتِ النَّعِيم، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُولِي الْعِلْمِ وَالْحُجَّةِ الْبَالِغَةِ عَلَى الْجَاحِدِين، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّين. أَمَّا بَعْدُ؛
اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، وَلِلَّهِ الْـحَمْد
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah Swt. Dialah Tuhan yang telah mempertemukan kita kembali dengan hari kemenangan, hari yang penuh cahaya, hari yang menebarkan harapan, yaitu Idulfitri. Dialah yang memberi kita kekuatan untuk berpuasa, kesabaran untuk menahan diri, kelapangan untuk beribadah, dan kesempatan untuk menutup Ramadhan dengan takbir, tahmid, dan air mata syukur.
Kita memuji Allah atas nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat hidayah. Kita bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Dan kita bersaksi bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah hamba dan utusan-Nya, penuntun jalan keselamatan, pembimbing hati menuju cahaya taqwa. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Dalam kesyukuran ini, teriring sebuah doa, semoga setiap sujud dan pengabdian kita yang penuh ta’abbud menjadi wasilah datangnya ampunan dan rahmat-Nya. Sungguh, inilah nikmat agung yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Sebagaimana firman Allah Swt.,
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا ۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
“Katakanlah (wahai nabi Muhammad): sebab karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (Q.s. Yunus: 58)
Ramadhan, Al-Qur’an, dan Lailatul Qadar adalah kemuliaan agung dari Allah Ta’ala yang dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang menyambut bulan suci dengan kesungguhan, serta menghidupkannya dengan amal salih yang dilandasi keikhlasan dan ketulusan.
Al-Imam Ibnul Jauzi, dalam kitabnya Zadul Masir, mengutip perkataan Sufyan bin Uyainah mengenai ayat di atas. Ia berkata: “Yang dimaksud dengan Fadhlullah adalah taufik dan pertolongan Allah Swt. Sementara itu, Rahmatihi adalah perlindungan-Nya dari segala keburukan.”
Manakala seorang muslim mendapatkan taufik dari Allah Swt. selama bulan Ramadhan – yakni diberikan kemampuan menunaikan ibadah dengan maksimal serta dijauhkan dari kelalaian dan kemaksiatan– maka sungguh, itulah merupakan anugerah serta rahmat-Nya yang paling nyata. Atas kedua nikmat agung tersebut, sudah selayaknya setiap mukmin bersyukur kepada Allah Swt. dan menyambut hari yang fitri ini dengan penuh kegembiraan serta mengagungkan asma-Nya.
اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر وَلِلَّهِ الْحَمد
Ma’asyriral muslimin rahimakumullah,
Terkait makna penggalan ayat, 'Maka hendaklah dengan itu mereka bergembira,' Syekh Nashir As-Sa’di menjelaskan bahwa Allah Swt. memerintahkan kita untuk bersukacita atas anugerah dan rahmat-Nya. Sebab, kegembiraan tersebut dapat menumbuhkan, menguatkan, serta membangkitkan semangat jiwa dan mental seseorang untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Swt.
Adakalanya manusia bergembira karena kebaikan, amal salih, dan keimanan. Namun ada pula yang justru bergembira dalam dosa dan kemaksiatan. Adapun bergembira dan bersukacita atas anugerah Ramadhan di hari raya ini, sesungguhnya merupakan sunnah yang diajarkan Rasulullah Saw.
Allah Swt. berfirman:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Q.s. Al-Baqarah: 185).
Di antara anugerah dan nikmat terbaik adalah kemampuan untuk menyempurnakan puasa selama satu bulan penuh, yang diiringi dengan qiyamul lail, tilawah, dan berbagai amal salih lainnya. Hal ini kemudian disempurnakan dengan mengagungkan Allah Swt. dengan sujud dan ruku’ yang kita persembahkan hanya kepada-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya.
Imam Ath-Thabari menjelaskan, “Bersyukurlah atas hidayah dan taufik Allah Swt. Hidayah berupa ilmu yang menuntun pada keimanan dan amal salih, serta taufik memiliki kekuatan untuk melaksanakan kewajiban serta mengagungkan-Nya. Maka, atas nikmat hidayah dan taufik ini, kita wajib bersyukur. Karena itu, bersukacitalah karena ketaatan, bukan karena kemaksiatan.”
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari Ibnu Umar, bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata:
مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ
“Barangsiapa yang amal kebaikannya membuat ia merasa bahagia, dan amal keburukannya membuat ia merasa sedih (menyesal), maka ia adalah seorang mukmin.”(H.r. At-Tirmidzi)
اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر وَلِلَّهِ الْحَمد
Ma’asyriral muslimin rahimakumullah,
Kebahagiaan sejati bersumber dari ketakwaan. Dan meraih ketakwaan itulah tujuan utama kita berpuasa serta menjalankan berbagai ibadah di bulan Ramadhan.
Secara bahasa, taqwa berarti takut. Tetapi takut di sini bukan takut yang membuat seseorang lari dari Allah. Taqwa adalah takut yang membuat hati semakin dekat kepada-Nya. Takut untuk melanggar perintah Allah. Takut untuk menentang aturan-aturan Allah dalam kehidupan. Takut untuk melawan sunnatullah, hukum-hukum Allah yang berlaku dalam alam semesta dan kehidupan manusia. Dan juga takut terhadap implikasi dari semua itu: rusaknya hati, sempitnya hidup, hilangnya keberkahan, gelisahnya jiwa, rusaknya keluarga, kacaunya masyarakat, dan datangnya azab Allah, baik di dunia maupun di akhirat.
Jadi, taqwa bukan sekadar rasa takut. Taqwa adalah kesadaran yang hidup dalam jiwa; kesadaran yang membuat seseorang berhati-hati dalam ucapan, menimbang setiap langkah, menjaga setiap amanah, dan selalu bertanya dalam dirinya: apakah ini diridhai Allah atau tidak?
Karena itu, taqwa bukan hanya urusan sajadah dan masjid. Taqwa juga menyangkut bagaimana kita mencari nafkah, mendidik anak, memperlakukan pasangan, menjaga lisan, menunaikan janji, menggunakan kekuasaan, dan berhubungan dengan sesama manusia. Taqwa adalah ruh kehidupan seorang mukmin.
Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. menyebut ketakwaan dalam berbagai bentuk; adakalanya berupa perintah, bahwa bertakwa adalah konsekuensi dari keimanan. Adakalanya pula dalam bentuk informasi, bahwa hamba yang bertakwa akan dianugerahi kedudukan mulia di sisi Allah Swt., serta limpahan berkah dan rahmat dalam berbagai bentuk dan jenisnya. Hal ini menunjukkan bahwa ketakwaan adalah kunci utama pembuka pintu keberkahan dan kebahagiaan.
Allah Swt. menjadikan ketakwaan sebagai wasilah untuk meraih karunia dan nikmat-Nya. Sebagaimana firman Allah,
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ - الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ - لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
'Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.' (Q.s. Yunus: 62-64).
Ayat ini mengisyaratkan bahwa ketakwaan adalah kunci sejati menuju ketenangan dunia dan akhirat; ia memberikan kedamaian hati dan menghilangkan kekhawatiran serta kesedihan.
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa makna 'tidak ada kekhawatiran dan kesedihan pada mereka' adalah: Mereka tidak takut akan masa depan keturunannya, karena yakin Allah akan senantiasa menjaga dan menjamin rezeki mereka. Mereka pun tidak bersedih atas urusan duniawi, karena yakin Allah akan memberikan kebahagiaan yang abadi. Sebab, Dialah Allah Swt., Maha Pelindung bagi hamba-hamba-Nya.
Syekh Nashir As-Sa’di juga menambahkan bahwa Allah Swt. mengabarkan tentang para kekasih-Nya dengan menuturkan amal dan sifat mereka. Berkat ketakwaan tersebut, Allah Swt. membersihkan rasa takut dan kesedihan dari hati mereka. Sebagai gantinya, kebahagiaan, kesentosaan, dan kebaikan yang melimpah -yang nilainya hanya diketahui oleh Allah Swt.- akan senantiasa menyertai kehidupan mereka.
اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر وَلِلَّهِ الْحَمد
Ma’asyriral muslimin rahimakumullah,
Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa ketakwaan menjadi sumber kebahagiaan yang hakiki:
Pertama, ketakwaan mendatangkan solusi dan keberkahan rezeki. Allah Swt. berfirman dalam Surah Ath-Thalaq ayat 2-3.
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا - وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Q.s. Ath-Thalaq: 2-3)
Syekh Nashir As-Sa’di menjelaskan bahwa siapa pun yang meniti jalan menuju keridhaan Allah, maka Allah akan memberinya pertolongan serta jalan keluar dari setiap kesulitan. Sebaliknya, mereka yang mengabaikan ketakwaan akan terjatuh dalam himpitan hidup dan belenggu kesulitan yang sulit dihindari.
Mengabaikan ketakwaan bisa menjadi penghalang terhadap keberkahan rizki. Dalam riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dari Tsauban, Rasulullah Saw. bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيْبُهُ ، وَلاَ يَرُدَّ الْقَدَرَ إِلاَّ الدُّعَاءَ ، وَلاَ يَزِيْدَ فِي الْعُمْرِ إِلاَّ الْبِرَّ
'Sungguh, seorang hamba benar-benar terhalang rezekinya karena dosa yang ia kerjakan. Tidak ada yang menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang menambah keberkahan umur kecuali kebajikan.' (H.r. Ahmad).
Kedua, ketakwaan mendatangkan kemudahan dalam segala urusan. Allah Swt. berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
'Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.' (Q.s. Ath-Thalaq: 4).
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Allah akan memberikan solusi terbaik bagi mereka yang bertakwa. Imam Al-Qurthubi menambahkan bahwa kemudahan tersebut juga berupa pertolongan Allah agar kita merasa ringan dalam menjalankan ketaatan. Manakala Allah ridha kepada seorang hamba, Dia akan menjadikan hati manusia mencintainya sehingga segala urusannya menjadi mudah. Namun jika Allah murka, maka Allah akan membuat membuat manusia membencinya, hingga segala sesuatu ia lakukan akan terasa sulit, dan hati akan dipenuhi keraguan serta kekacauan.
Ketiga, ketakwaan menghadirkan kedamaian dan kegembiraan hati. Ketakwaan adalah rahasia kebahagiaan abadi. Ia menghapus kesusahan, mendatangkan ketenangan mental, dan menjadi sarana penggugur dosa. Allah Swt. berfirman:
إِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ مَفَازاً
'Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa ada kemenangan (puncak kebahagiaan).' (Q.s. An-Naba': 31).
Ketakwaan adalah sumber kebahagiaan dan ketenangan jiwa yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat. Ia menghadirkan kedamaian mental dan kejernihan rasa, sekaligus menjadi penawar bagi kesusahan hati. Dengan menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, jalan kesulitan akan diringankan, dosa-dosa akan digugurkan, dan pintu keberkahan rezeki akan dibuka dari arah yang tak terduga. Inilah sarana bagi setiap mukmin untuk meraih kesuksesan yang mulia dan kemakmuran yang penuh berkah.
Singkatnya, ketakwaan adalah muara dari segala kebaikan: dicintai Allah, ditolong dalam kesulitan, dilapangkan rezekinya, diterangkan pikirannya, hingga akhirnya diselamatkan dari api neraka menuju rumah kebahagiaan, yaitu surga. Ketakwaan adalah puncak dari segala kesuksesan dan kemuliaan.
اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر وَلِلَّهِ الْحَمد
Ma’asyriral muslimin rahimakumullah,
Maka marilah di hari Idulfitri ini kita jangan hanya kembali kepada pakaian yang bersih, tetapi juga kembali kepada hati yang bersih. Jangan hanya rumah yang kita rapikan, tetapi juga jiwa yang kita benahi. Jangan hanya makanan yang kita hidangkan, tetapi juga taubat yang kita hidupkan.
Setelah Ramadhan berlalu, jangan biarkan taqwa ikut pergi. Jangan sampai mata kita kembali liar, lidah kita kembali tajam, hati kita kembali keras, shalat kita kembali lalai, Al-Qur’an kita kembali tertutup, dan majelis ilmu kembali kita tinggalkan. Bila itu terjadi, maka kita hanya merayakan Idulfitri di permukaan, tetapi tidak benar-benar sampai pada fitrah yang sesungguhnya.
Taqwa harus terus dijaga. Taqwa harus dihidupkan di rumah-rumah kita. Taqwa harus menjadi dasar dalam mendidik anak-anak kita. Taqwa harus mewarnai cara kita berdagang, bekerja, memimpin, berbicara, dan bermedia sosial. Sebab dunia hari ini bukan kekurangan informasi, tetapi kekurangan taqwa. Dunia hari ini bukan hanya membutuhkan orang pintar, tetapi membutuhkan orang yang takut kepada Allah.
Karena itu, mari kita pulang dari tempat shalat ini dengan tekad baru: menjadi pribadi yang lebih bertaqwa, menjadi suami yang lebih bertaqwa, istri yang lebih bertaqwa, orang tua yang lebih bertaqwa, anak yang lebih bertaqwa, pemimpin yang lebih bertaqwa, dan masyarakat yang lebih bertaqwa.
Sebab hanya dengan taqwa, hidup menjadi berkah. Hanya dengan taqwa, hati menjadi tenang. Hanya dengan taqwa, langkah menjadi terarah. Hanya dengan taqwa, dunia menjadi ladang kebaikan. Dan hanya dengan taqwa, akhirat menjadi tempat kemenangan
Di hari yang fitri ini, marilah kita saling menjaga, mengingatkan, dan menguatkan agar cahaya ketakwaan ini tetap terpelihara dalam dada. Sebab, di dalam ketakwaanlah tersimpan seluruh kunci kebaikan dunia dan akhirat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر
اللهُ أَكْبَر كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهْ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكَافِرُوْنَ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَلِيِّ الْمُتَّقِين، وَإِلَهِ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرين، وَقيُّوْمِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِين
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، اَلْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِين، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلصَّادِقُ الْوَعْدِ الَأَمِين
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا الْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِين، سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ خَاتَمِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِين وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِين. أَمَّا بَعْد؛
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ تَكُوْنُوْا عِنْدَهُ مِنَ الْمُفْلِحِيْنَ الْفَائِزِيْنَ. وَاْعلَمُوْا يَا إِخْوَانِي رَحِمَكُمُ اللهَ، أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمُ اْلعِيْدِ وَيَوْمُ اْلفَرَحِ وَالسُّرُوْرِ، فَاشْكُرُوا اللهَ تَعَالَى بِالتَّكْبِيْرِ وَالتَّهْلِيْلِ إِنَّهُ غَفُوْرٌ شَكُوْر.
ثُمَّ صَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى النَّبِيِّ الْمَنْصُور، الْمَبْعُوْثِ بِالْفَضْلِ وَالْأُجُوْرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَتِكَ اْلمُقَرَّبِيْن، وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِيّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْن
اللهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْن، وَدَمِّرْ اَعْدَاءَ الدِّيْن، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَن، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَن، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ بِلَادِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَسْعِدْ فِي هَذَا الْعِيْدِ قُلُوْبَنَا، وَفَرِّجْ هُمُوْمَنَا، وَاشْفِ مَرْضَاناَ، وَارْحَمْ مَوْتَانَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَان
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَاصِيَتِهِمَا لِلْبِرِّ وَالتَّقْوَى، وَاجْعَلْ بِلَادَنَا بِلَادَ إِيْمَانٍ وَأَمَانٍ، وَرَخَاءٍ وَسَعَةِ رِزْقٍ، وَاصْرِفْ عَنْهَا الشُّرُورَ وَالْفِتَن، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَن، وَأَسْأَلُكَ الَّلهُمَّ أَنْ تَجْمَعَ كَلِمَتَنَا، وَأَنْ تُوَحِّدَ صُفُوْفَنَا، وَأَنْ تَلُمَّ شَعْثَنَا، وَأَنْ تَجْمَعَ شَمْلَنَا، وَأَنْ تـُــــبْدِلَنَا بَعْدَ الْخَوْفِ أَمْنًا، وَبَعْدَ الْفُرْقَةِ وَاْلإِخْتِلاَفِ وِحْدَةً وَاعْتِصَامًا
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ الله، اِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوْا الله الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَ لَذِكْرُ اللهِ اَكْبَر، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْن.
و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته